Kamis, 04 April 2013

Mengamati Sifat Fisik dan Kimia Perairan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bumi ini terdari 30% daratan dan 70% perairan. Perairan dibumi ini terdiri atas air tawar dan air asin. Perairan air tawar terdiri atas danau, kolam, dan sungai. Selain itu adapula perairan payau yang merupakan campuran dari air laut dan air sungai, sedangkan sungai termasuk ekosistem air mengalir. Laut dibedakan air tawar karena kandungan kadar garam atau salinitas yang tinggi.
Berbicara tentang ekosistem aquatic (habitat dengan air sebagai medium internanl dan ekosistem) tidak bisa lepas dari masalah kelestarian air itu sendiri sebagai komponen lingkungan hidup yang utama. Kelestarian air dalam kualitas dan kuantitas yang cukup tidak saja secara langsung menunjang kegiatan metabolisme komponen biotis dalam ekosistem aquatic ini tetapi juga dirasakan langsung menunjang kebutuha manusia.
Beberapa penentu peraiaran dipengaruhi pengolahaan dan kelangsungan hidup. Berkembang biak, pertumbuhan atau reproduksi organisme. Kualitas air salah satunya dapat dilihat dari sifat fisik dan sifat kimia.
Dewasa ini perairan banyak digunakan oleh manusia untuk berbagai keperluan diantaranya keperluan rumah tangga, pertanian, perikanan, perindustrian, sumber energi, sarana-sarana transportasi, dan tempat-tempat rekreasi. Kita ketahui bersama air mempunyai sifat fisik dan kimia yang berbeda pada masing-masing tempat seperti air pada danau, laut, rawa, empang, dan sungai. Sifat fisik dan kimia tersebut dapat kita ketahui melalui penentu bau, rasa, warna dan PH.
Dari urian diatas sehingga penulis mengangkat judul “Mengamati Sifat Fisik Dan Kimia Perairan”. Dengan harapan agar kita dapat mengetahui bagaimana sifat fisik dan kimia perairan disekitar kita.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari karya ilmiah ini adalah:
1.Bagaimana perbandingan sifat fisik dan kimia perairan?   
2.Apa saja  yang termasuk dalam sifat fisik dan kimia perairan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari karya ilmiah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui perbandingan sifat fisik dan kimia perairan.
2.      Untuk mengetahui yang termasuk dalam sifat fisik dan kimia perairan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perairan adalah massa air pada suatu wilayah tertentu. Baik yang bersifat dinamis (bergerak atau mengalir) seperti laut dan sungai maupun statis (tergenang) seperti danau perairan ini dapat berupa perairan tawar, payau, maupun asin. Laut ialah kumpulan massa air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% matrial lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tidak terlarut seperti fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni. Sungai merupakan jalan air alami , mengalir menuju samudra, danau atau laut, atau sungai lainnya. Sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap kedalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya.
(Jimmy Wales, http://id.Wikipedia.Org/Wiki/Perairan (24 November 2009)).
Sifat fisik adalah segala aspek dari suatu objek atau zat yang dapat diukur  atau dipersepsikan tanpa merubah identitasnya. Sifat fisik dapat berupa sifat itensif atau ekstensif. Sifat itensif tidak bergantung pada ukuran dan jumlah materi pada objek. Sedang sifat ekstensif bergantung pada ukuran dan jumlah materi pada objek.
(Jimmy Wales, http://id.Wikipedia.Org/Wiki/Sifat-Fisik (24 November 2009)).
Warna laut bergantung pada zat terlarut yang ada didalamnya. Zat terlarut tersebut dapat berupa endapan dan organisme yang hidup didarat laut. Faktor lain yang mempengaruhi warna laut adalah gelombang elektrolit dari matahari. Dengan adanya faktor-faktor tersebut mata air laut dapat memilki beragam warna diantaranya adalah merah, kuning, hitam, hijau, kebiru-biruan dan biru. (Marah dan Asep, 110: 2005)
Sifat kimia air yang terutama adalah bahwa air merupakan pelarut yang baik. Hampir semua zat kimia bisa dilarutkan. Air dapat mempercepat (mengkatalis) hampir semua reaksi kimia yang diketahui. Sifat air yang penting kimianya adalah reaktivitas kimianya ada pada tingkat ideal.
Air tidak terlalu relativ yang membuatnya berpotensi merusak dan tidak terlalu lamban. Sifat kimia terutama timbul pada reaksi kimia dan hanya dapat diamati dengan mengubah identitasnya.
(Jimmy Wales, http://wikipedia.mobi/id/sifat-kimia (27 November 2009)).
Michael denton mengatakan “Tampaknya seperti semua sifatnya yang lain, reaktivitas air ideal baik bagi peran biologis maupun geologis”.
Kesusian sifat-sifat kimia air untuk kehidupan terungkap ketika para ahli menyelidiki zat tersebut lebih jauh. Morowitz, seorang professor biofisika dari Universitas Yale mengatkan “Beberapa tahun belakang telah menyaksikan studi yang berkembang tentang sebuah sifat air yang baru dipahami (yaitu berkonduktansi proton) yang ternyata hampir unik bagi zat tersebut, merupakan unsur kunci transfer energi biologis  dan tentu saja penting bagi asal-usul kehidupan”. Semakin dalam yang dipelajari semakin terkesan sebagian dari kami dengan kesesuaian alam dalam bentuk yang begitu cepat.
Novotny dan Olem, mengatakn bahwa sebagian besar biota aquatic sensitiv terhadap perubhan Ph dan menyukai nilai Ph sekitar 7 sampai 8,5. Nilai Ph sangat mempengaruhi proses biokimia perairan misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika Ph rendah. Sedangkan menurut Hoslam, menambahkan bahwa P<4, sebagian besar tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi terhadap Ph rendah.
(Harun Yahya, http://smk 3 or.Wordpress.Com/2008/06/24/Sifat-sifat-Kimia-Air/… (27 November 2009))
Jumlah air dibumi ini tidak pernah berubah (tetap) yaitu sebanyak ± 1.385.984.610 Km3 dan dari jumlah ini air tawar hanya 35.028.210 Km3. Jadi jumlah air tawar hanya 2,5% dari jumlah keseluruhan. Air terdistribusi diberbagai tempat yaitu air laut 96,5%, air tanah tawar 0,76%, air tanah asin 0,93%. Untuk kelembapan tanah 0,0012%, dalam bentuk es dikutub 1,7%, dalam bentuk es lain dan salju 0,025%, danau dan air asin 0,006%, air rawa 0,008%, sungai-sungai 0,0002%, dimakhluk hidup 0,00001%. Dan diatmosfer 0,001%. (Karden, 132:2004).


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat Dan Bahan
A. Alat
·         Alat tulis menulis
·         Botol aqua
·         Ph meter atau indikator
B. Bahan
·         Air laut
·         Air empang
·         Air rawa
·         Air sungai
3.2 Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam pengamatan ini adalah:
1.      Mengamati kondisi fisik dan kimia perairan laut, perairan empang, perairan rawa dan peraiarn sungai yang ada disekitar lokasi pengamatan.
2.      Mengatur Ph air tersebut dengan menggunkan Ph meter atau indikator.
3.      Mencatat data pada table hasil pengamatan.

3.3  Waktu Dan Tempat Pelaksanaan
adapun tempat pelaksaan ini dilakukan di laboratium MAN Tomini dan disekitar lokasi pengamatan pada 23 Desember 2009.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan adalah:
No
Kondisi fisik dan kimia
Keadaan peraiaran
Sungai
Rawa
empang
Laut
1.
Warna
Bening
Coklat
Kuning
Biru
2.
Rasa
Tawar
Tawar
Asin
Asin
3.
Bau
Tidak berbau
Berbau
Berbau
Tidak berbau
4.
Derajat Keasaman (Ph)
7,3
4,7
5,2
8,5

4.2 Pembahasan
Pengamatan ini dilakukan pada empat lokasi yaitu pada sungai, rawa, empang dan laut. Pada pengamatan ini dilakukan pengmatan kondisi fisik dan kimia.
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui baik warna, rasa, bau dan Ph pada keempat lokasi. Pada pengamatan warna, pada sungai mempunyai warna bening. Hal ini disebabkan karena tidak adanya erosi, pengikisan tanah dan pelumpuran pada daerah tersebut. Sehingga cahaya dapat melewati seluruh bagian air, yang menyebabkan air tersebut kelihatan bening. Karena bening proses fotosintetis dapat berjalan dengan baik. Sedangkan pada rawa warnanya coklat atau keruh. Hal ini disebabkan adanya pelumpuran pada daerah tersebut sehingga airnya berwarna coklat atau keruh. Sedangkan pada empang warna kuning. Hal ini disebabkan didasarnya terdapat lumpur kuning sehinnga menyebabkan airnya berwarna kuning. Sedangkan pada air laut memilki warna biru. Warna biru tersebut berasal dari cahaya matahari yang memilki panjang gelombang yang besar. Ketika memasuki atmosfer bumi, panjang gelombang tesebut mengecil dan memancar. Panjang gelombang yang bar ini besarnya sama dengan panjang gelombang warna biru. Sehingga menyebabkan air laut berwarna biru.
Pada pengamatan rasa, pada sungai dan rawa memilki rasa tawar. Hal ini disebabkan adanya proses penyaringan yang berlapis didalam tanah dan kejenuhan air tanah yang menyebabkan air asin tidak masuk kedlam tanah atau daratan. Sehingga air rwa dan sungai rasanya tawar.
Sedangkan pada laut rasanya asin. Hal ini disebabkan air hujan mencuci daratan kemudian masuk kedalam puritan, rawa, telaga, danau dan sungai dengan membawa garam-garam terlarut sampai kelautan dan laut merupakan tempat aliran terakhir maka garam-garam tersebut. Semuanya berkumpul jadi satu dilautan yang menyebabkan air laut mempunyai kadar garam yang tinggi sehingga rasanya asin.
Sedangkan pada empang mempunyai rasa yang sama dengan air laut. Hal ini disebabkan lokasi empang yang berdekatan dengan laut. Maka terjadilah peresapan (intrusi) air laut kedarah empang, sehingga menyebabkan air empang rasanya asin.
Pada pengamtan bau, pada daerah rawa dan empang airnya berbau. Hal ii disebabkankarena airnya tidak mengalami pergantian atau tidak memilki pintu pelepasan air sehingga airnya tergenang yang menyebabkan airnya berbabu. sedangakan pada sungai dan laut airnya tidak berbabu. Hal ini disebabkan pada daerah tersebut airnya mengalami pergantian atau memilk pintu pelepasan air sehinnga airnya bergerak atau mengalir yang menyebabkan airnyatidak berbau.
Pada pengamatan Ph, pada daerah rawa dan empang mempunyai Ph 4,7 dan 5,2 yang berarti bersifat asam (Ph rendah) umumnya disebabkan limbah yang mengadung asam-asam mineral bebas danasam karbonat. Keasaman tinggi (PH rendah) juga dapat disebabkan adanya fes2 dal air yang jika bereaksi denganudara dan air akan membentuk H2SO4 dan ion Fe2+ (larut dalam air).
Sedangkan pada daerah sungai dan laut memilki Ph 7,3 dan 8,5 yang berarti bersifat alkalis atau basa (Ph tinggi) yang disebabkan adanya karbonat, bikarbonat dan atau hidroksida.  Airnya yang PHnya tinggi umumnyamengandung padatan terlarut.
Pada pengamabtan ini tidak dilakukan pengukuran kadar salinitas dan kadar oksigen sehingga praktikum ini tidak dapat mengetahui kadar salinitas dan kadar oksigen pada daerah tersebut.

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari pengamatan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Kondisi fisik dan kimia pada keempat lokasi pengamatan berbeda.
2.      Perbedaan fisik dan kimia perairan meliputi warna, rasa, bau dan Ph.
3.      Adapun yang trmasuk dalam sifat fisik dan kimia perairan yaitu, warna, rasa, Ph, kadar oksigen dan salinitas.



DAFTAR PUSTAKA
Manik, K.E.S. 2004. Pengolahan Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan.
Pratiwi, D.A. 2000. Biologi SMU Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Uli, M dan Mulyadi. 2005. Geografi SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Wales, Jimmy. 2006. http:/id.wikipedia.org/wiki/peraiaran (diakses 24 November 2009)
Wales, Jimmy. 2006. http://wapedia.mobi/id/sifat kimia (diakses 27 November 2009)
Yahya, Harun. 2005. http://SMK3 ae.wardpress.com/2008/06/24/sifat-sifat kimia.air (diakses 27 November 2009)